Teluk Dalam punya banyak pantai. Teluk Dalam juga punya banyak desa adat. Masing-masing punya kekhasan sendiri. Semua memperkaya kehidupan masyarakat di Teluk Dalam.
Teluk Dalam
Teluk Dalam adalah ibukota Kabupaten Nias Selatan. Untuk menuju ke sana, kamu bisa naik mobil dari Gunungsitoli. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 2-3 jam. Teluk dalam juga punya pelabuhan kecil yang menghubungkannya dengan pulau-pulau kecil de sekitarnya, seperti Pulau Asu atau Pulau Batu.
Sebelum kamu berkunjung ke Teluk Dalam carilah informas, sedang musim apa saat itu di Teluk Dalam. Saat musim durian tiba, buah durian yang berdaging tebal dan manis bisa kamu dapatkan di banyak tempat dengan harga yang cukup murah. Teluk Dalam juga punya buah kweni yang terkenak enak. Kalau musim kweni tiba, bau kweni yang haru akan tercium sepanjang jalan. Banyak orang menjual kweni di pinggir jalan atau di depan rumah mereka.
Ketika musim panen padi, warga pun menyulap halaman rumah mereka menjadi lautan padi. Ya, mereka menjemur padi hasil panen di sepan rumah, bahkan sampai ke pinggir-pinggir jalan.
Wisata Pantai
Letaknya yang berada di tepian Samudera Indonesia membuat Teluk Dalam kaya akan wisata pantai. Pantai Sorake dan Lagundri paling terkenal di dunia sebagai lokasi selancar yang asyik. Di musin ombak, bayak wisatawan mancanegara yang berkunjung kesini. Kalau mau lokasi selancar yang lain, ada juga Pantai Rockstar. Namun, ombaknya cenderung lebih kecil dibandingkan Sorake. Ada lagi Pantai Mo’ale yang masih sunyi dengan pasir putihnya yang menawan. Pantai ini terletak dipinggiran Teluk Dalam, sehingga masih belum terlalu ramai. Namun, justru karena belum terlalu padat dengan pengunjung, Pantai Mo’ale terlihat bersih dan terasa tenang.
Wisata Desa
Selain jalan-jalan ke pantai, di Teluk Dalam kita bisa mengunjungi desa-desa adat. Desa Bawomataluo paling terkenal hingga ke mancanegara. Namun, sebenarnya tidak Cuma itu. Kita bisa juga berkunjung ke desa lain, misalnya Hilinawalo Fau, Bawogosali, Orahili Fau, dan masih banyak lagi. Setiap desa pasti punya kebiasaan dan alam yang berbeda. Meskipun begitu, hamper semua desa adat punya lompat batu, tradisi khas Nias. Oya, biasannya, desa adat di Nias punya rumah besar yang disebut Omo Sebua. Dulu, rumah itu dihuni oleh raja. Namun, sayang, kini tinggal empat desa yang memiliki omo sebua, yaitu, Hilinawalo Mazingo, Hilinawalo Fau, Onohondro, dan Bawomataluo. Itu pun, tidak semua berada dalam kondisi yang masih bagus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar