Sabtu, 30 April 2011

Sebotol Susu Untuk Anak Babun

Oleh Pramudito

Mardia baru dua bulan tinggal di Windhoek, ibukota Namibia, sebuah Negara di bagian barat daya Afrika. Ia mengikuti ayahnya yang menjadi diplomat dan bertugas di Negara itu. Setiap hari ia diantar jemput oleh ibunya pergi ke sekolah internasional di lingkungan setempat.
Mardiah mempunyai adik berusia satu tahun barnama Nia. Setiap kali ibu mengantar Mardiah ke sekolah, Ina ditemani Mbak Inah, pembantu yang ikut dari Indonesia.
Suatu siang ketika Mardiah dan ibunya tiba di rumah, Mbak Inah berteriak-teriak histeris.
“Botol susu Ina hilaang! Botol susu Ina hilaang!” kata Mbak Inah, tadi ia meletakkan botol susu Ina di atas meja dapur. Mbak Inah masuk ke ruang dalam sebentar, lalu kembali ke dapur. Data itu botol susu Ina sudah lenyap. Siapa yang mengambilnya? Nia masih kecil dan tidak mungkin mengambil sendiri botol susunya.
                Keributan di rumah Mardiah akhirnya terdengar oleh ibu tetangga sebelah, yang berkebangsaan Polandia. Ia dating dan bertanya. Ibu Mardiah menceritakan apa yang baru terjadi.
“Mungkin dicuri babun,” kata ibu Polandia tersebut.
“Apa itu babun?” Tanya ibu Mardiah
“Itu sejenis kera besar yang memang banyak terdapat di Afrika,” ibu dari Polandia itu menjelaskan.
“Mereka memang suka masuk ke pekarangan rumah. Bahkan berani masuk ke dalam rumah untuk mengambil makanan atau minuman. Babun juga terdapat di sekitar perumahan kita ini. Di sekitar kita ini kan, banyak perbukitan.”
                Mardia dan ibunya merasa ngeri juga mendengar cerita itu. Namun mereka lalu jadi penasaran, ingin melihat babun dengan mata kepala sendiri.
                Keesokan harinya, karena sekolah libur, Mardiah mendapat kesempatan untuk mengetahui apa itu babun. Ia bersama Ibu dan Mbak Inah menyiapkan sebotol susu seperti biasa. Lalu diletakkan di atas meja dapur. Pintu dapur sengaja dibiarkan terbuka. Selanjutnya mereka mengintip dari balik pintu dapur yang menuju ruang tengah.
                Tak lama kemudian terdengar bunyi langkah agak berat. Dengan berdebar-debar mereka menunggu apa yang bakal terjadi. Beberapa menit kemudian, mereka sangat terkejut. Seekor kera besar diikuti seekor kera kecil, diam-diam memasuki dapur. Dengan sigap kera besar itu meraih botol susu, lalu membimbing anaknya meninggalkan dapur. Mardiah hampir berteriak, namun mulutnya cepat ditutup ibunya.
“Ternyata babun itu yang mengambil susu kita,” bisik ibu.
                Meskipun agak takut, tapi karena sangat ingin tahu, mereka bertiga lalu ikut ke luar dapur. Mereka berjalan menuju semak belukar yang membatasi rumah dengan perbukitan. Tampaklah adegan yang membuat Mardiah, Ibu, dan Mbak Inah takjub. Induk babun itu sedang asyik menyusui anaknya dengan botol susu yang baru diambilnya tadi. Ternyata, induk babun mengambil susu untuk anaknya! Setelah air susu itu habis, induk babun melempar botolnya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
                Sore harinya, Mardiah dan Ibu menceritakan keajaiban itu pada ayah Mardiah. Ayah Mardiah hanya tersenyum.
“Kalau begitu, Mbak Inah harus menyiapkan botl susu khusus untuk anak babun itu! Babun itu tidak galak kok!” kata Ayah
                Demikianlah, sejak saat itu, setiap pagi Mbak Inah menyiapkan dua botol susu. Satu untuk Nia dan satunya lagi untuk anak babun. Babun itu sendiri lama kelamaan semakin jinak. Ia mengerti bahwa setiap pagi ada sebotol susu yang disiapkan khusus untuknya. Babun itu tidak lagi memberikan susu kepada anaknya di balik semak belukar. Kini dengan tenangnya ia melakukannya di depan dapur.
                Lama kelamaan, acara pemberian sebotol susu untuk anak babun menjadi tontonan yang asyik. Bukan hanya keluarga Mardiah yang menontonnya. Para tetangga, bahkan teman-teman ayah di kantor KBRI juga ikut menonton. Dengan cekatan ayah Mardiah juga merekamnya dalam video.
                Sayangnya, setelah berlangsung dua bulan lebih, satu hari, babun dan anaknya itu tidak muncul lagi di depan dapur rumah Mardiah. Mardiah agak kecewa karena ditinggal oleh babun yang sudah jinak itu.
“Mungkin babun itu menganggap anaknya sudah besar, tidak perlu minum susu lagi,” kata ibu Mardiah menghibur
“Mudah-mudahan lain kali ada babun lain yang baru melahirkan anak. Lalu dating ke rumah kita juga,” kata Mardiah
                Sebotol susu untuk anak babun, akhirnya menjadi kenangan yang tak akan terlupakan. Mardiah pasti akan selalu mengingatnya, walau nanti ia kembali ke Indonesia.

Selasa, 26 April 2011

SALAM Pohon Sahabat Alam

Salam berasal dari kata dalam bahasa Arab, yang berarti selamat, baik, dan damai. 

Sahabat Alam
Kalau daunnya diremas, bau harum langsung menyebar. Pantas ibu-ibu sering memasukan daun salam ketika memasak. Selain untuk bumbu dapur, ternyata pohon dan buah salam juga bermanfaat untuk alam sekitar. Pohonnya yang kokoh dan daunnya yang rimbun, bisa melindungi tanaman kecil lain dari sengatan terik matahari. Siang hari, saat hijau daunnya berfotosintesisi, pohon salam menghisap karbondioksida dan mengeluarkan banyak oksigen. Udara disekitarnya pun menjadi sejuk dan segar. Hewa-hewan seperti tupai, burung, monyet, dan kelelawar sangat menyukai pohon salam. Sebab buah salam yang buahnya kecil-kecil siap menjadi santapan harian mereka.

Pewarna dan Obat Alami
Tentu, pohon salam sahabat manusia juga. Pohon yang biasannya hidup liar di dataran rendah hingga pegunungan ini ternyata oleh ahli ramuan sering digunakan untuk obat. Seperti, mengobati asam urat, kolestrol, stroke, melancarkan peredaran darah, radang lambung, diare, gatal-gatal, kencing manis, dan lainnya.
Di desa, para perajin anyaman mengunakan kulit-kulit pohon salam untuk mewarnai anyaman sehingga tampil cantik alami. Sedangkan para nelayan sering memanfaatkan kulit pohon salam untuk mewarnai jalanya agar tersamar. 

Pantai Aia Manih dan Legenda Malin Kundang

Percayakah kamu kalau kisah Malin Kundang benar-benar nyata?
Jika pertanyaan itu kamu ajukan pada penduduk pantai Aia Manih (Air Manis), bisa jadi jawabannya iya. Pantai Aia adalah salah satu pantai di Sumatera Barat. Lokasi sekitar 10 kilometer dari selatan kota Padang.

Kisah legenda Malin Kundang yang terkenal itu terjadi di pantai ini. Tidak mengherankan jika ada penduduk Aia Manih yang percaya Malin Kundang itu nyata. Sebab, di pantai ini ada “bukti” berupa Malin Kundang. Batu Malin Kundang adalah batuan yang bentuknya menyerupai tubuh lelaki bersorbran yang sedang bersujud. Kono batu itu adalah tubuh Malin Kundang yang sedang bersujud memohon ampun ibunya. Disekitar batu Malin Kundang, berserakan juga batu-batu yang bentuknya menyerupai tong kayu, tambang, jangkar, kapal, dan puing-puing kapal. Batuan itu mengesankan sebagai puing kapal Malin Kundang yang hancur karena kutukan ibunya.

Batu-batu itu sekarang dilapisi semen. Namun, pada mulanya, batuan itu asli. Batuan aslinya pernah hancur kerana sering dihantam ombak pasang. Akhirnya batuan itu dilapisi semen. Saying, lapisan semen itu justru membuat batu Malin Kundang terlihat seperti patung semen biasa. Apakah batuan itu cukup membuktikan bahwa legenda Malin Kundang memang nyata? Kalau toh tidak, berkunjung ke pantai Aia Manih tetap menyenagkan. Pasirnya putih bersih. Tak jauh dari pantai, terdapat Pulau Pisang Ketek. Jika air surut, kita bisa berjalan menyebrangi laut untuk sampai ke pulau tersebut. Pulau ini kecil, tetapi rimbun dan sejuk.

Shenzhen

Siapa yang tak ingin berkunjung ke kota Shenzhen yang modern, ramai, tapi bersih dan hijau? Meskipun banyak gedung jangkung, pepohonan tampak tumbuh di sudut-sudut kota. Semua tertata indah, rapi, dan asri. Meski ramai, lalu lintas tetap lancar. Di pusat kota, sepeda pun menjadi idola.

Tiga Kali Jakarta
 Kota Shenzhen terletak di provinsi Guangdong, China Selatan. Shenzhen adalah kota yang pertumbuhannya paling cepat di China, bahkan di dunia. Lebih-lebih setelah kota tersebut ditetapkan sebagai Daerah Ekonomi Khusus. Tak heran, Shenzhen dianggap sebagai slah satu keajaiban China lo.
Bayangkan, hanya dalam waktu 20 tahun, kota pelabuhan yang semula kecil kini telah menjelma menjadi kota metropolitan berstandar internasional. Wow, kota metropolitan ini memiliki luas 2.020 kilometer persegi atau tiga kali lebih luas kota Jakarta. Lagi pula, jumlah penduduk Shenzhen tidak sepadat Jakarta.

Transportasi dan produk hi-tech  
Memiliki pantai sepanjang 230 kilometer, Shenzhen adalah kota dengan selusin pelabuhan seperti, Shekou, Yantian, dan Chiwan. Maka, Shenzhen menjadi kota pelabuhan internasional yang sungguh hiruk pikuk. Kegiatan perdagangan di kawasan ini begitu hidup dan tak pernah berhenti.
Selain pelabuhan waktu, Shenzhen memiliki jaringan kereta api, kereta api bawah tanah, jalan tol yang seba hebat. Transportasi pun lancar disana. Yang istimewa, Shenzhen juga menghasilkan berbagai produk industri yang sangat modern dan hi-tech (berteknologi tinggi).

Dekat Hong Kong
Kota Shenzhen yang terletak di pantai selatan, berada sekitar 147 kilometer dari kota Guangzhou, Ibukota Provinsi Guangdong. Dari Guangzhou ke Shenzhen, membutuhkan dua jam dengan mobil melalui jalan tol yang mulus.
Jarak antara Shenzhen dan Hongkong cukup dekat, sekitar 30 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu satu jam lewat jembatan Luo Hu. Maka, semakin ramailah Shenzhen karena banyak wisatawan yang dating melalui Hong Kong. Tak salah, Luo Hu juga merupakan pusat perbelanjaan yang sangat besar, modern, dan mewah.

Trotoar luas, taman, dan sepeda
Di jantung kota Shenzhen terdapat sebuah kawasan yang menyenangkan, yaitu Huaqiangbei. Kawasan ini sangatlah menyenangkan buat para pejalan kaki karena memiliki trotoar yang sangat lebar. Di kiri kanan jalan terdapat sejumlah pusat perbelanjaan yang modern dan berkelas internasional.
Bila cpai berjalan kaki, siapa pun boleh bersantai di tempat-tempat duduk untuk umum yang berada di taman kota. Yang sangat istimewa, Shenzhen memang didesain sebagai  kota taman yang berstandar internasional. Bukan main. Di kawasan ini jumlah mobil sangat dibatasi. Oho, sepedalah yang sangat dianjurkan untuk dipakai karena tidak menimbulkan polusi.





Menelusuri Teluk Dalam

Teluk Dalam punya banyak pantai. Teluk Dalam juga punya banyak desa adat. Masing-masing punya kekhasan sendiri. Semua memperkaya kehidupan masyarakat di Teluk Dalam.

Teluk Dalam
Teluk Dalam adalah ibukota Kabupaten Nias Selatan. Untuk menuju ke sana, kamu bisa naik mobil dari Gunungsitoli. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 2-3 jam. Teluk dalam juga punya pelabuhan kecil yang menghubungkannya dengan pulau-pulau kecil de sekitarnya, seperti Pulau Asu atau Pulau Batu.
Sebelum kamu berkunjung ke Teluk Dalam carilah informas, sedang musim apa saat itu di Teluk Dalam. Saat musim durian tiba, buah durian yang berdaging tebal dan manis bisa kamu dapatkan di banyak tempat dengan harga yang cukup murah. Teluk Dalam juga punya buah kweni yang terkenak enak. Kalau musim kweni tiba, bau kweni yang haru akan tercium sepanjang jalan. Banyak orang menjual kweni di pinggir jalan atau di depan rumah mereka.
Ketika musim panen padi, warga pun menyulap halaman rumah mereka menjadi lautan padi. Ya, mereka menjemur padi hasil panen di sepan rumah, bahkan sampai ke pinggir-pinggir jalan.

Wisata Pantai   
Letaknya yang berada di tepian Samudera Indonesia membuat Teluk Dalam kaya akan wisata pantai. Pantai Sorake dan Lagundri paling terkenal di dunia sebagai lokasi selancar yang asyik. Di musin ombak, bayak wisatawan mancanegara yang berkunjung kesini. Kalau mau lokasi selancar yang lain, ada juga Pantai Rockstar. Namun, ombaknya cenderung lebih kecil dibandingkan Sorake. Ada lagi Pantai Mo’ale yang masih sunyi dengan pasir putihnya yang menawan. Pantai ini terletak dipinggiran Teluk Dalam, sehingga masih belum terlalu ramai. Namun, justru karena belum terlalu padat dengan pengunjung, Pantai Mo’ale terlihat bersih dan terasa tenang.

Wisata Desa
Selain jalan-jalan ke pantai, di Teluk Dalam kita bisa mengunjungi desa-desa adat. Desa Bawomataluo paling terkenal hingga ke mancanegara. Namun, sebenarnya tidak Cuma itu. Kita bisa juga berkunjung ke desa lain, misalnya Hilinawalo Fau, Bawogosali, Orahili Fau, dan masih banyak lagi. Setiap desa pasti punya kebiasaan dan alam yang berbeda. Meskipun begitu, hamper semua desa adat punya lompat batu, tradisi khas Nias. Oya, biasannya, desa adat di Nias punya rumah besar yang disebut Omo Sebua. Dulu, rumah itu dihuni oleh raja. Namun, sayang, kini tinggal empat desa yang memiliki omo sebua, yaitu, Hilinawalo Mazingo, Hilinawalo Fau, Onohondro, dan Bawomataluo. Itu pun, tidak semua berada dalam kondisi yang masih bagus.