Oleh Pramudito
Mardia baru dua bulan tinggal di Windhoek, ibukota Namibia, sebuah Negara di bagian barat daya Afrika. Ia mengikuti ayahnya yang menjadi diplomat dan bertugas di Negara itu. Setiap hari ia diantar jemput oleh ibunya pergi ke sekolah internasional di lingkungan setempat.
Mardiah mempunyai adik berusia satu tahun barnama Nia. Setiap kali ibu mengantar Mardiah ke sekolah, Ina ditemani Mbak Inah, pembantu yang ikut dari Indonesia.
Suatu siang ketika Mardiah dan ibunya tiba di rumah, Mbak Inah berteriak-teriak histeris.
“Botol susu Ina hilaang! Botol susu Ina hilaang!” kata Mbak Inah, tadi ia meletakkan botol susu Ina di atas meja dapur. Mbak Inah masuk ke ruang dalam sebentar, lalu kembali ke dapur. Data itu botol susu Ina sudah lenyap. Siapa yang mengambilnya? Nia masih kecil dan tidak mungkin mengambil sendiri botol susunya.
Keributan di rumah Mardiah akhirnya terdengar oleh ibu tetangga sebelah, yang berkebangsaan Polandia. Ia dating dan bertanya. Ibu Mardiah menceritakan apa yang baru terjadi.
“Mungkin dicuri babun,” kata ibu Polandia tersebut.
“Apa itu babun?” Tanya ibu Mardiah
“Itu sejenis kera besar yang memang banyak terdapat di Afrika,” ibu dari Polandia itu menjelaskan.
“Mereka memang suka masuk ke pekarangan rumah. Bahkan berani masuk ke dalam rumah untuk mengambil makanan atau minuman. Babun juga terdapat di sekitar perumahan kita ini. Di sekitar kita ini kan, banyak perbukitan.”
Mardia dan ibunya merasa ngeri juga mendengar cerita itu. Namun mereka lalu jadi penasaran, ingin melihat babun dengan mata kepala sendiri.
Keesokan harinya, karena sekolah libur, Mardiah mendapat kesempatan untuk mengetahui apa itu babun. Ia bersama Ibu dan Mbak Inah menyiapkan sebotol susu seperti biasa. Lalu diletakkan di atas meja dapur. Pintu dapur sengaja dibiarkan terbuka. Selanjutnya mereka mengintip dari balik pintu dapur yang menuju ruang tengah.
Tak lama kemudian terdengar bunyi langkah agak berat. Dengan berdebar-debar mereka menunggu apa yang bakal terjadi. Beberapa menit kemudian, mereka sangat terkejut. Seekor kera besar diikuti seekor kera kecil, diam-diam memasuki dapur. Dengan sigap kera besar itu meraih botol susu, lalu membimbing anaknya meninggalkan dapur. Mardiah hampir berteriak, namun mulutnya cepat ditutup ibunya.
“Ternyata babun itu yang mengambil susu kita,” bisik ibu.
Meskipun agak takut, tapi karena sangat ingin tahu, mereka bertiga lalu ikut ke luar dapur. Mereka berjalan menuju semak belukar yang membatasi rumah dengan perbukitan. Tampaklah adegan yang membuat Mardiah, Ibu, dan Mbak Inah takjub. Induk babun itu sedang asyik menyusui anaknya dengan botol susu yang baru diambilnya tadi. Ternyata, induk babun mengambil susu untuk anaknya! Setelah air susu itu habis, induk babun melempar botolnya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
Sore harinya, Mardiah dan Ibu menceritakan keajaiban itu pada ayah Mardiah. Ayah Mardiah hanya tersenyum.
“Kalau begitu, Mbak Inah harus menyiapkan botl susu khusus untuk anak babun itu! Babun itu tidak galak kok!” kata Ayah
Demikianlah, sejak saat itu, setiap pagi Mbak Inah menyiapkan dua botol susu. Satu untuk Nia dan satunya lagi untuk anak babun. Babun itu sendiri lama kelamaan semakin jinak. Ia mengerti bahwa setiap pagi ada sebotol susu yang disiapkan khusus untuknya. Babun itu tidak lagi memberikan susu kepada anaknya di balik semak belukar. Kini dengan tenangnya ia melakukannya di depan dapur.
Lama kelamaan, acara pemberian sebotol susu untuk anak babun menjadi tontonan yang asyik. Bukan hanya keluarga Mardiah yang menontonnya. Para tetangga, bahkan teman-teman ayah di kantor KBRI juga ikut menonton. Dengan cekatan ayah Mardiah juga merekamnya dalam video.
Sayangnya, setelah berlangsung dua bulan lebih, satu hari, babun dan anaknya itu tidak muncul lagi di depan dapur rumah Mardiah. Mardiah agak kecewa karena ditinggal oleh babun yang sudah jinak itu.
“Mungkin babun itu menganggap anaknya sudah besar, tidak perlu minum susu lagi,” kata ibu Mardiah menghibur
“Mudah-mudahan lain kali ada babun lain yang baru melahirkan anak. Lalu dating ke rumah kita juga,” kata Mardiah
Sebotol susu untuk anak babun, akhirnya menjadi kenangan yang tak akan terlupakan. Mardiah pasti akan selalu mengingatnya, walau nanti ia kembali ke Indonesia.
