Selasa, 10 Mei 2011

Teka-Teki

                 Alkisah, seorang pangeran tiba-tiba memutuskan untuk berkelana keliling dunia. Dia tidak membawa siapa pun kecuali pelayannya yang setia. Mereka terus berjalan hingga tiba di hutan rimba, dan ketika kegelapan menyelimuti, dia tidak bisa menemukan tempat berlindung dan tak tahu ke mana harus menghabiskan malam itu. Namun, dia melihat seorang gadis yang berjalan menuju sebuah rumah kecil.
                “Wahai gadis kecil, dapatkah aku dan pelayanku bermalam di rumah ini?”
                “Oh tentu saja,” kata gadis itu dengan suara sedih, “tentu saja kau bisa, tetapi aku tidak menyarankan kau memasuki rumah ini. Jangan masuk.”
                “Kenapa tidak?” Tanya Pangeran.
                Gadis itu menghela napas berat dan berkata, “Ibu tiriku melakukan sihir jahat dan dia tidak ramah pada orang asing.”
                Sang Pangeran mengetahui kalau dia telah dating ke rumah penyihir, namun saat itu keadaannya sangat gelap dan dia tidak bisa berjalan lebih jauh lagi. Selain itu, dia juga tidak merasa takut, jadi dia masuk.
                Perempuan tua itu sedang duduk di kursi berlengan di dekat perapian dan menatap kedua orang asing itu dengan matanya yang merah.
                “Selamat malam,” dia menggeram dan berpura-pura ramah. “Silakan duduk dan beristirahat.”
                Perempuan tua itu menyalakan api, di atasnya dia menaruh panci kecil yang isinya mendesis-desis. Putrinya memberitahu kedua tamunya untuk tidak memakan atau meminum apa pun yang disajikannya, karena perempuan itu sedang membuat minuman jahat.
                Keesokan paginya, mereka bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Ketika pangeran sudah berada di punggung kudanya, perempuan tua itu mendekatinya.
                “Tunggu dulu, aku harus memberimu minuman perpisahan.”
                Namun, ketika si perempuan tua mengambilnya, Pangeran sudah terlebih dahulu memacu kudanya. Sementara itu, pelayannya masih harus mengikat pelananya erat-erat dan dia masih berada di depan rumah penyihir keji itu ketika dia kembali membawa minuman untuk pangeran.
                “Bawakan minuman ini untuk tuanmu.” Katanya.
                Gelas itu pecah dan racun di dalamnya terpecik ke tubuh kuda. Racun itu sangat kuat sehingga binatang itu langsung jatuh dan mati. Si pelayan berlari ke majikannya untuk mengatakan apa yang terjadi, tetapi dia lupa pelananya tertinggal sehingga dia kembali untuk mengambilnya. Ketika dia kembali pada kudanya yang sudah mati, seekor gagak berdiri di atasnya dan mulai memakannya.
                “Siapa tahu kami tidak akan mendapatkan yang lebih baik dari hari ini?” kata si pelayan sambil membunuh gagak itu dan membawanya.
                Mereka berjalan di dalam hutan sepanjang hari dan belum bisa menemukan jalan keluar. Saat matahari terbenam, mereka menemukan penginapan dan bermalam di sana. Si pelayan memberikan gagak kepada pemilik penginapan untuk makan malam.
                Mereka tidak tahu kalau penginapan itu adalah sarang penyamun. Tengah malam, dua belas orang penjahat berdatangan dan berniat membunuh tamu-tamu baru itu, lalu merampoknya.
                Sebelum melakukan kejahatan, mereka semua makan. Pemilik penginapan dan penyihir duduk bersama mereka. Menu makan malam kali itu adalah sup gagak. Namun, baru saja mencicipi sesendok sup, mereka semua tergeletak tak bernyawa. Ketika memakan daging kuda yang terkena racun, gagak itu, ternyata ikut tercemari oleh racunnya. Tak seorang pun yang selamat di rumah itu, kecuali putri si pemilik penginapan. Dia adalah gadis yang jujur dan tidak ikut serta dalam kejahatan mereka. Dia membukakan semua pintu untuk kedua tamunya dan memperlihatkan gundukan harta karun di sana. Namun, sang pangeran berkata kalau gadis itu boleh menyimpan semuanya, dia tidak akan mengambil sedikit pun dari harta itu.
                Pangeran dan pelayannya yang setia melanjutkan perjalanan hingga sampailah mereka di sebuah kota. Di sana, tinggal seorang putri yang sangat cantik dan sombong. Dia mengumumkan kalau siapa pun yang bisa mengajukan teka-teki yang tak bisa dijawabnya, laki-laki itu akan menjadi suaminya. Akan tetapi, jika dia bisa menjawabnya, orang itu akan dipenggal. Sang putrid memiliki waktu tiga hari untuk menjawab teka-teki. Namun, dia sangat pintar hingga sering kali dia sudah bisa menjawabnya sebelum waktu yang di tentukan. Sembilan orang telah menjadi korban karena teka-teki ini.
                Sang pangeran dibutakan oleh kecantikan sang putrid hingga dia rela mempertaruhkan nyawanya. Dia dating pada sang putri dan menyebutkan teka-tekinya.
                “Apakah yang tidak bisa mematikan apapun, tetapi dua belas binasa.”
                Sang putri terkejut mendengar teka-teki ini, karena dia sama sekali tidak tahu apa itu. Dia terus berpikir, tetapi dia tidak menemukan jawabannya. Dia membuka kitab teka-teki miliknya, tetapi tidak ada di dalamnya. Pendek kata, kepintarannya berakhir. Dia tidak tahu bagaimana cara menolong dirinya sendiri dan dalam keputusasaannya, dia menyuruh dayang-dayangnya untuk menyelinap ke kamar sang pangeran dan mendengarkan mimpinya. Dia berpikir mungkin saja sang pangeran mengigau dalam tidurnya dan tak sengaja mengatakan jawabannya.
                Akan tetapi, pelayan sang pangeran yang cerdik menggantikan pangeran berbaring di atas ranjangnya. Jadi, ketika dayang-dayang sang putri dating, si pelayan melepaskan jubah yang dikenakan dayang sang putrid sehingga terlepas dan mengejarnya dengan tongkat.
                Pada malam kedua, sang putri mengirim dayang-dayangnya yang lain, berharap kali ini dia akan berhasil. Namun, sang pelayan mengambil jubah dayang tersebut dan mengejar-ngejarnya dengan tongkat.
                Pada malam ketiga, sang pangeran yakin kalau dia tidak akan diganggu, jadi dia tidur di ranjangnya sendiri. Sang putri sendiri yang datang ke kamarnya, mengendap-endap dalam jubahnya yang berwarna abu-abu. Dia duduk di pinggir ranjang sang pangeran, dan saat dia yakin pangeran tertidur dan bermimpi, dia bertanya kepadanya.
                “Satu tidak mematikan apa pun, apa itu?” tanyanya
                Sang pangeran yang sebenarnya masih terjaga, mendengar pertanyaan sang putrid dengan jelasdan menjawab, “Seekor gagak yang memakan kuda yang mati diracun.”
                Sang putri kembali bertanya, “Tetapi, ia membinasakan dua belas, apa itu?”
                “ Itu artinya, ada dua belas penyamun yang memakan gagak dan mati keracunan.”
                Sang putri yang curang, kemudian berniat melarikan diri, tetapi pangeran memegangi jubahnya erat-erat sehingga dia terpaksa meninggalkannya. Keesokan paginya, sang putri mengumumkan kalau dia sudah berhasil menebak teka-teki sang pangeran dan mengundang dua belas juri.
                Namun, sang pangeran berkata, “Dia menyelinap ke kamarku di malam hari dan menanyaiku. Kalau tidak, dia tak mungkin tahu jawabannya.”
                Para juri berkata, “Bawakan buktinya.”
                Si pelayan membawa tiga jubah, dan ketika para juri melihat jubah abu-abu yang biasa dikenakan sang putri, mereka berkata, “Bordir jubah itu dengan benang emas dan perak, dan itu akan menjadi jubah penikahanmu.”       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar